JADWAL SHALAT  Subuh 04:35 WIB | Dzuhur 11:47 WIB | Ashar 14:59 WIB | Maghrib 17:49 WIB | Isya 18:54 WIB
Header_harian_pelita

HARIAN PELITA

Teladan Kenegarawanan Nabi

Minggu, 3 Februari 2013  |

Oleh Mohammad Nasih

SELAIN  sebagai  nabi  utusan  Tu-han,  Muhammad  memiliki  per-an lain yang sangat signifikan,
di  antaranya  sebagai  pemimpin  politik
tertinggi. Kepemimpinannya dalam poli-tik  pertama  kali  mendapat  legitimasi
setelah  Nabi  Muhammad  melakukan
hijrah  ke  Madinah  dan  dijadikan  se-bagai  mediator  yang  diharapkan  bisa
mempersatukan  suku-suku  di  sana
yang  sebelumnya  sering  terlibat  kon-flik yang memakan korban nyawa se-cara sia-sia. Dan sesuai harapan, Nabi
Muhammad mampu menjadikan Madi-nah sebagai sebuah negara yang terta-ta baik. Penggantian nama Yatsrib men-jadi  Madinah  sesungguhnya  menun-jukkan  semangat  untuk  meninggalkan
budaya lama yang biadab untuk mem-bangun budaya baru yang beradab. Di
Madinah,  Nabi  tampil  sebagai  negar-awan sukses.
Kenegarawanan  Nabi  Muhammad
sangat  tampak  dalam  banyak  aspek.
Pertama, profesional menjalankan fung-si  sebagai  pemimpin  politik  tertinggi.
Nabi  pemimpin  yang  lengkap  dengan
kualitas-kualitas  kepemimpinan,  baik
dalam  konteks  keilmuan,  kebijaksa-naan,  dan  tindakan  nyata.  Nabi  tidak
hanya  pandai  beretorika,  tetapi  juga
melaksanakan  apa  yang  dikatakan  se-cara nyata dalam kehidupan sehari-hari
dengan  penuh  kebijaksanaan.  Kare-na  keluhuran  budinya,  makin  banyak
orang  yang  kemudian  menjadi  pengi-kutnya,  baik  dengan  memeluk  agama
Islam  ataupun  tunduk  kepadanya  se-bagai  seorang  pemimpin  politik  walau-pun tetap tidak memeluk agama Islam.
Nabi  Muhammad  memberi  pelayanan
secara langsung kepada siapa pun yang
membutuhkan pelayanan terbaik.
Kedua,  mahir  dalam  membangun
konsensus.  Nabi  selalu  mengedepank-an  cara  damai  dalam  menyelesaikan
berbagai  permasalahan.  Untuk  men-gantisipasi  terjadinya  kekacauan,  Nabi
memimpin  kelompok-kelompok  yang
ada  di  Madinah  untuk  membangun
kesepakatan  atau  konsensus  untuk
melakukan  upaya  bersama  menjaga
dan  mempertahankan  Madinah  seb-agai sebuah negara berdaulat.
Ketiga,  memiliki  kepercayaan  diri
yang tinggi dengan tetap mengedepank-an cara-cara damai. Seorang pemimpin
harus  memiliki  kepercayaan  diri  yang
tinggi  di  hadapan  pemimpin-pemimpin
yang lain dalam konteks pergaulan du-nia. Nabi Muhammad memilikinya, se-hingga  tidak  canggung  dalam  melaku-kan  komunikasi  dengan  pemimpin-pe-mimpin negara lain, termasuk di anta-ranya  untuk  menyebarkan  ajaran  Is-lam.  Dan  dalam  konteks  menyebar-kan  Islam,  Nabi  menggunakan  cara-cara  yang  sangat  mengagumkan  den-gan  mengirimkan  surat  kepada  para
penguasa  di  sekitar  Madinah.  Walau-pun  merupakan  pemimpin  baru,  Nabi
Muhammad  memiliki  kepercayaan  diri
yang  sangat  tinggi  dalam  membangun
komunikasi dengan penguasa-penguasa
di sekitar Madinah
yang  telah  lama
berkuasa  diband-ingkan  Nabi.  Re-spons  merekalah
yang  kemudi  an
menentukan sikap
Nabi. Kepada mer-eka  yang  meneri-ma dakwah Islam,
tentu  saja  Nabi
Muhammad  menerima  dengan  senang
hati.  Kepada  mereka  yang  tidak  me-nerima Islam, tetapi tetap menghormati
agama Islam dan kaum muslimin den-gan  cara  membalas  surat  Nabi  secara
baik-baik, maka Nabi Muhammad ber-hubungan  dengan  mereka  secara  baik
pula.  Namun,  terhadap  mereka  yang
membuka  permusuhan,  Nabi  melaku-kan  tindakan  tegas.  Berdasarkan  fak-ta-fakta  tersebut,  adalah  sebuah  keke-liruan fatal jika dikatakan bahwa Islam
disebarkan dengan pedang. Sebaliknya,
Islam disebarkan dengan rasa cinta un-tuk menyelamatkan umat manusia dari
kesesatan dan kebiadaban.
Keempat,  menjalankan  hidup  aske-tik. Nabi Muhammad menjadikan akti-vitas  sosial  politiknya  sama  sekali  bu-kan  untuk  memperkaya  diri,  keluarga,
dan orang-orang terdekatnya, melaink-an  karena  ingin  melakukan  perbaikan
masyarakat.  Dan  untuk  itu,  Nabi  Mu-hammad  melakukan  perjuangan  besar
dengan pengorbanan yang amat sangat
besar, baik dengan harta maupun nya-wa. Nabi Muhammad yang telah sukses
sebagai  saudagar  sejak  belia  dan  dari
aktivitas tersebut memiliki harta kekay-aan yang terbilang melimpah, tetapi ke-hidupan terakhirnya masih meninggal-kan transaksi gadai dengan seorang Ya-hudi.  Baju  perangnya  digadaikan  ke-padanya,  tentu  karena  Nabi  Muham-mad  membutuhkan  uang.  Nabi  Mu-hammad sama sekali tidak meminta im-balan kepada para pengikutnya sebagai
pengganti atas ajaran atau ilmu penge-tahuan yang disampaikannya.
Kelima,  menerapkan  sistem  meri-tokrasi.  Nabi  Muhammad  tidak  mem-bangun kerajaan, sebagaimana pengua-sa-penguasa  lain  saat  itu,  walaupun
juga  tidak  mengkritik  sistem  tersebut.
Itu terbukti dari fakta bahwa Nabi Mu-hammad  wafat  tanpa  ada  wasiat  atau
perintah  kepada  siapa  tongkat  estafet
kepemimpinan  politik  akan  diberikan.
Pemimpin politik setelah Nabi Muham-mad  ditentukan  sendiri  oleh  umat  Is-lam  dengan  melakukan  bai’at  kepada
Abu  Bakar,  demikian  selanjutkan  se-hingga  kepemimpinan  berlanjut  sam-pai  kepada  Umar  bin  Khaththab,  Ut-sman  bin  ‘Affan,  dan  ‘Ali  bin  Abi  Thal-ib.  Baru  setelah  itu,  kepemimpinan
politik  berubah  dan  sistem  meritokra-si berubah menjadi kerajaan.
Keenam, membangun paradigma ke-beragaman sebagai hukum alam. Bah-kan  perbedaan  agama  dipandangnya
sebagai  sebuah  kenyataan,  sehingga
walaupun  Nabi  Muhammad  telah  me-miliki pendukung yang berjumlah san-gat cukup, ia tidak melakukan tindakan
semena-mena dan tetap menempatkan
siapa pun warga negara di Madinah se-cara  sama,  walaupun  berbeda  agama.
Dalam  konteks  bernegara,  Nabi  Mu-hammad tidak pernah membeda-beda-kan antara yang beragama Islam mau-pun  non-Islam.  Semua  mendapatkan
perlindungan  yang  sama  dari  negara.
Dan atas mereka yang bertindak makar,
Nabi  Muhammad  melakukan  tindakan
tegas.  Ini  terjadi  atas  kalangan  Yahudi
karena  mereka  berkomplot  dengan  pi-hak  luar  Madinah  untuk  merongrong
negara  Madinah.  Akibat  tindakan  ma-kar  itu,  sebagian  kelompok  Yahudi  di-usir  dari  Madinah  dan  sebagian  yang
lain  dihukum  mati.  Ketegasan  Nabi  ti-dak  hanya  terhadap  orang  lain,  tetapi
juga terhadap orang yang dekat dengan-nya  sekalipun.  Semangat  ini  nampak
dalam  sabdanya:  “Jika  Fathimah  binti
Muhammad  mencuri,  maka  aku  send-iri yang akan memotong tangannya”.
Begitulah  di  antara  contoh  kenegar-awanan Nabi Muhammad, sehingga ke-mudian  menjadi  pemimpin  yang  tidak
hanya  berwibawa,  tetapi  juga  sangat
dicintai  dan  memiliki  pengaruh  paling
besar  di  seluruh  dunia.  Karakter  ken-egarawanan itulah yang perlu dicontoh
oleh  para  politisi  sekarang,  agar  mere-ka  mampu  menjalankan  fungsi  kepe-mimpinan dengan baik dan benar, un-tuk membuat negara menjadi lebih baik
secara akseleratif. Wallahu ‘alam bi al-shawab.
(Pengajar di Program Pascasarjana
Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Wakil
Rektor  STEBANK  Islam  Mr.  Sjafrud-din Prawiranegara, Jakarta)

Dibaca 134 kali

Tinggalkan komentar....