JADWAL SHALAT  Subuh 04:35 WIB | Dzuhur 11:47 WIB | Ashar 14:59 WIB | Maghrib 17:49 WIB | Isya 18:54 WIB
Header_harian_pelita

HARIAN PELITA

Polda NTB Klarifikasi Kerusuhan Sumbawa

Selasa, 22 Januari 2013  |

Masyarakat Jangan Mudah Terhasut

Mataram, Pelita

      Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) mengklarifikasi pemicu kerusuhan di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, sekitar pukul 13.30 Wita untuk dipahami semua pihak.   Masyarakat pun diserukan untuk tidak mudah terhasut.

      Menko Polhukam Djoko Suyanto di Jakarta juga memberikan penjelasan dan memastikan aparat keamanan dari Kepolisian dibantu TNI juga sudah disiagakan untuk membangun situasi yang kondusif.

      "Aksi anarkis massa dapat diredam aparat TNI dan Polri. Warga Bali sudah mengungsi ke Kodim, Kompi B Yonif 742 Sumbawa dan Kantor Bupati Sumbawa," kata Djoko.

      Menurut Djoko, pada hari Senin (21/1), pukul 10.00-12.00 Wita, 150 mahasiswa Universitas Sumbawa (Unsa), Sumbawa Besar, dipimpin Iswandi (mahasiswa Unsa) melakukan unjuk rasa di Kantor Polres Sumbawa untuk menuntut diproses secara hukum oknum anggota Polres Sumbawa, Brigadir I Gde Eka Suarjana yang menyebabkan pacarnya, Arniati (sumber lain menyebut Aryati-Red) mahasiswi Universitas Sumbawa (Unsa) meninggal dunia.

      Sebab musabab Arniati meninggal berbeda antara pihak Kepolisian maupun yang berkembang luas di masyarakat. Pihak Kepolisian menyebut meninggalnya Ariati karena kecelakaan murni atau tabrakan saat naik sepeda motor. Tapi isu yang dikembangkan di kalangan masyarakat bahwa korban dianiaya dan diperkosa oleh pelaku.

      Pukul 13.00 Wita, setelah unjuk rasa di Polres, massa mahasiswa dan keluarga korban melakukan pelemparan terhadap rumah ibadah dan beberapa material milik rumah ibadah itu, seperti meja, kursi, dan lain-lain dikeluarkan dan dibakar. Aksi anarkis massa dapat diredam oleh aparat dari TNI/Polri.

      Aksi berlanjut dengan pengrusakan terhadap rumah dan aset milik warga Bali. Kerugian satu rumah dibakar, dua ruko dibakar, dua mobil dan satu sepeda motor  juga dibakar, sementara mobil Damkar tidak dapat bergerak karena disandera oleh massa.

      "Situasi terus dikendalikan aparat keamanan dari Kepolisian dibantu TNI yang sudah disiagakan membantu Polri," katanya.

Kecelakaan Murni

      Kabid Humas Polda NTB AKBP Sukarman Husein di Mataram, Selasa (22/1) malam menjelaskan, kasus ini sebenarnya murni kecelakaan lalu-lintas, bukan pembunuhan atau apapun yang diisukan.

      "Jadi, kasus yang sebenarnya itu kecelakaan lalu-lintas, bukan pembunuhan atau apa pun yang diisukan. Ini fakta yang sebenarnya," kata Sukarman Husein.

      Dia mengatakan kejadian yang sebenarnya adalah kecelakaan lalu-lintas pada Sabtu, 19 Januari 2013 sekitar pukul 23.00 Wita di jalan raya jurusan Sumbawa-Kanar kilometer 15-16 di dekat tambak udang Dusun Empang, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa.

      Kronologis kejadiannya yakni sepeda motor Yamaha Mio DK 5861 WY melaju dari arah Kanar menuju arah Sumbawa, dan ketika tiba di dekat tambak udang itu, kendaraan selip, dan terjatuh ke kanan jalan.

      Pengendara sepeda motor yakni anggota Polri Brigader I Gede Eka Swarjana, 21, yang membonceng Arniati,30, yang kemudian tewas dalam kecelakaan tersebut.

      "Penyidik sudah memeriksa saksi-saksi, antara lain I Wayan Merta Astika dan Arahman terkait kecelakaan lalu-lintas itu," ujarnya.

      Dengan demikian, kata Sukarman, kematian wanita tersebut akibat kecelakaan lalu-lintas, dan kebetulan pengendara sepeda motor yang anggota Polri itu beragama Hindu, dan wanita yang diboncengnya merupakan pacarnya yang beragama Islam.

      Namun, beredar beragam isu yang memicu amarah sanak keluarga korban kecelakaan lalu- lintas tersebut, dan warga lainnya di Kabupaten Sumbawa, sehingga dilakukan unjuk rasa yang berujung tindakan anarkis.

      Menurut catatan Kepolisian, selain melempar Pura dan membakar kendaraan, juga merusak harta milik warga lainnya yang beragama Hindu.

      "Kami sudah berkoordinasi dengan Bupati Sumbawa dan Brimob dari Sumbawa Barat dan Dompu untuk mengamankan situasi agar kembali kondusif," ujarnya.

      Seperti diberitakan sebelumnya, sekitar 500 orang warga melakukan penyerangan secara spontan terhadap permukiman tertentu di Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, Provinsi NTB, yang dipisu oleh isu bernuansa suku agama ras dan antargolongan (SARA), Selasa, sekitar pukul 13.30 Wita.

      Dalam aksi penyerangan itu, sejumlah tempat ibadah agama tertentu dirusak massa yang termakan isu. Rumah dan toko pun di beberapa lokasi menjadi sasaran amukan warga, hingga beberapa rumah yang dihuni komunitas tertentu dibakar massa, dan sejumlah kendaraan juga dirusak massa yang terbakar emosi.

Sanak Keluarga

      Aksi penyerangan itu, bermula dari unjuk rasa yang dilakukan sekitar 200 orang di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, sekitar pukul 13.00 Wita.

      Pengunjuk rasa didominasi oleh sanak keluarga dari Arniati, wanita yang dinyatakan tewas pada malam Minggu lalu, yang dilaporkan akibat kecelakaan lalu-lintas, namun sanak keluarganya meragukan penyebab kematiannya, karena di tubuh korban ditemukan tanda-tanda kekerasan.

      Sebelum dinyatakan tewas, Arniati bersama pacarnya yang anggota polisi Brigadir I Gede Eka Swarjana, keluar bermalam Minggu, menggunakan sepeda motor dengan cara berboncengan.

      Sanak keluarga Arniati mencurigai wanita muda itu dibunuh, bukan kecelakaan lalu-lintas, dan kecurigaan itu berkembang menjadi amarah ketika semakin banyak isu yang beredar, antara lain isu yang menyebutkan hasil visum ditemukan tanda-tanda kekerasan, yang dikait-kaitkan dengan kekerasan pada alat kelamin.

      Sanak keluarga korban yang mendapat simpati dari warga lainnya, semakin marah ketika mendapat laporan dari pihak Kepolisian kematian Arniati murni kecelakaan lalu-lintas.

      Karena itu, pada Selasa (22/1) sanak keluarga korban dan warga lainnya yang jumlahnya lebih dari 200 orang menggelar unjuk rasa, sekaligus sebagai aksi protes terhadap pernyataan polisi yang menyatakan penyebab kematian tersebut murni kecelakaan lalu-lintas.

      Unjuk rasa itu berkembang menjadi aksi anarkis, sehingga hendak menyasar tempat ibadah tertentu, namun dihalau oleh aparat Kepolisian yang dibantu satuan TNI.

      Sempat terjadi ketegangan hingga massa pengunjuk rasa nyaris bentrok dengan aparat keamanan, ketika polisi hendak menangkap seorang pengunjuk rasa yang dikenal dengan nama Slank yang diduga sebagai provokator aksi anarkis.

      Massa aksi sempat melemparkan batu dan benda keras lainnya ke arah tempat ibadah tersebut, hingga massa aksi yang jumlahnya terus bertambah hingga mencapai lebih dari 500 orang, melakukan pengrusakan dua tempat ibadah, serta merobohkan pintu gerbang.

      Massa kemudian bergerak ke lokasi lain, dan sekitar pukul 16.00 Wita, massa  melakukan pengrusakan terhadap toko UD Dinasty milik Wayan Rantak, hingga mencuat aksi pejarahan barang dagangan. Rumah warga tertentu lainnya dilaporkan dirusak dan dibakar.

      Namun begitu, salah seorang warga Sumbawa, Jun, menyebut kematian wanita yang adalah mahasiswi sekaligus bekerja di Dinas Kependudukan pemerintah setempat, pada pukul 03.00 WIT.

      "Pagi hari keluarga ngumpul di rumah sakit, ternyata tidak sesuai dengan kecelakaan murni. Ditemukan luka-luka lebam, ada dugaan bukan karena kecelakaan, tapi sepertinya penganiayaan," terang Jun yang juga pengajar di Universitas Sumbawa.

      Mendengar insiden ini,  para mahasiswa Universitas Sumbawa sempat menggelar aksi solidaritas di kantor Kepolisian dan pemprov setempat. Namun, pada siang hari, terjadi kerusuhan warga yang diduga masih kesal dengan insiden tersebut. Sejumlah rumah dan mobil dibakar.

      "Kalau mahasiswa sudah tidak ada yang terlibat lagi hari ini (kemarin-Red). Itu massa dari warga. Lokasi rusuhnya ada banyak ada di Jalan Baru, ada di pasar," terangnya. Jun belum mengetahui secara pasti perkembangan terakhir dari lokasi rusuh. (ant/jon)

Dibaca 567 kali

Tinggalkan komentar....