JADWAL SHALAT  Subuh 04:35 WIB | Dzuhur 11:47 WIB | Ashar 14:59 WIB | Maghrib 17:49 WIB | Isya 18:54 WIB
Header_harian_pelita

HARIAN PELITA

Pinjam Bendera

Senin, 29 Oktober 2012  |

   NAZARUDDIN yang tengah diadili untuk beberapa kasus korupsi mengungkap bahwa banyak proyek APBN yang ditanganinya, kontraknya dibuat dengan menggunakan berbagai perusahaan. Jadi yang melakukan tindakan hukum adalah direktur utama perusahaan tertentu, tetapi didalam kenyataannya perusahaan tersebut tidak menangani proyek tersebut, apapun  proyeknya. Bisa  pengadaan barang, pekerjaan jasa konstruksi atau pekerjaan jasa lainnya. 

   Istilah yang lazim dipakai ialah pinjam bendera atau pinjam nama. Praktik itu sudah lama terjadi, mungkin sejak tahun 1970-an, saat mulai munculnya banyak proyek. Yang meminjam bendera, bisa perusahaan, bisa perseorangan, bisa pejabat pemerintah yang mengelola proyek APBN. Pinjam bendera itu bisa bersifat positif, bisa juga bersifat negatif.

   Perusahaan yang dipakai namanya itu mendapat sejumlah fee tertentu yang besar persentasenya sudah ditentukan. Untung atau rugi proyek itu  menjadi tanggung jawab perusahaan atau pribadi yang meminjam bendera. Juga disediakan persentase tertentu untuk menutupi aspek perpajakan. Kalau tidak ada masalah, tentu tidak apa-apa. Tetapi kalau timbul masalah, masalah hukum, atau masalah keuangan; tentu Dirut perusahaan yang disewa itu tidak bisa lepas tangan.

   Karena sudah berjalan 30-40 tahun, bisa  disimpulkan bahwa praktik ini tidak dilarang oleh para pengelola proyek. Dan sejauh saya tahu hampir tidak ada masalah hukum. Ada yang mengalami masalah keuangan karena pihak yang meminjam nama perusahaan tertentu ternyata tidak bisa meneruskan proyek dan pemilik perusahaan diminta bertanggungjawab.

   Ternyata yang bisa dipinjam nama atau benderanya bukan hanya perusahaan. Bisa juga lembaga atau yayasan. Sekali lagi, kalau tidak ada masalah, pimpinan lembaga yang dipinjam nama atau dipinjam benderanya tidak akan menanggung risiko apapun. Tetapi kalau ada masalah, dia tidak bisa menghindar secara mudah. Bahkan ada yang terpaksa diajukan ke pengadilan.

   DN, ketua sebuah yayasan di bawah naungan badan otonom NU di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah diajukan ke pengadilan terkait kegiatan Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Fungsional untuk Program Pendidikan Non- Formal tahun anggaran 2010. Yayasan yang dipimpinnya dipinjam benderanya oleh seorang pegawai Dinas Pendidikan Rembang. Pegawai tersebut (AM) telah dijatuhi hukuman satu tahun berkekuatan hukum tetap oleh Pengadilan Negeri Rembang.

   Ketua yayasan tersebut tadinya menolak untuk meminjamkan bendera yayasan yang dipimpinnya, tetapi karena berkali-kali didesak oleh atasan terhukum AM yaitu pimpinan Dinas Pendidikan Rembang, akhirnya dia menerima dan menandatangani kontrak dengan pimpinan proyek senilai hampir Rp300 juta. 

   Ternyata AM menggelapkan dana atau menggunakannya untuk kegiatan serupa tapi untuk tahun anggaran 2009,  setahun sebelumnya. Maka  DN dianggap bekerja sama dengan DN dalam tindakan melawan hukum dan diajukan ke pengadilan. Yayasan yang dipakai benderanya itu hanya menerima  Rp11 juta untuk sebuah kegiatan terkait proyek tersebut, bukan fee. Maka dia diajukan ke Pengadilan Tipikor.

   Pengacara dan saksi ahli yang meringankan berpendapat bahwa kasus itu bukan pidana, tetapi perdata. Kontrak yang dibuat juga mengatur seperti itu. Ketua yayasan adalah korban, bukan pihak yang bekerjasama dengan AM yang telah dijatuhi hukuman. Banyak orang yang menyaksikan bahwa yayasan bersedia dipinjam namanya setelah didesak oleh atasan AM. Patut diduga bahwa atasan AM itu yang justru terlibat.

   Apakah perusahaan-perusahaan yang dipinjam benderanya atau dipinjam namanya oleh Nazaruddin yang kebetulan terkait dugaan tindak pidana korupsi, harus menjadi terdakwa karena mereka jelas menerima fee? Praktik pinjam bendera ini perlu kajian mendalam dari segi hukum karena sudah menjadi praktik umum dalam dunia usaha di Indonesia. (Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng)

Dibaca 1186 kali

Tinggalkan komentar....